Lokalatih Virtual Anti Perdagangan Orang Bagi Pemuka Agama Se-Nasional

Lokalatih Virtual Anti Perdagangan Orang Bagi Pemuka Agama Se-Nasional
Materi Investigasi oleh jurnalis TEMPO, Yohanes Seo di pertemuan kedua lokalatih virtual pada Rabu (28/9/2021)

Institut Dialog Antar Iman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei) bersama dengan Zero Human Trafficking Network menyelenggarakan pertemuan Tahap II dalam bentuk Lokakarya dan Pelatihan (Lokalatih) Virtual (melalui aplikasi Zoom) untuk Pemuka Agama-Agama pada Senin (27/9/2021) hingga Rabu (29/9/2021) pukul 13.00 WITA. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bagi Pemuka dan Tokoh Agama (tingkat nasional dan daerah, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur) pada 24-25 dan 28-29 Juni 2021 lalu. Adapun tema dalam kegiatan ini adalah “Pemberantasan Perdagangan Orang” yang akan diisi dengan kegiatan kunjungan belajar secara virtual dan pelatihan investigasi seputar tema.

 

Tujuan dari kegiatan ini adalah membuka ruang diskusi bagi para pemimpin dan tokoh agama-agama, baik secara nasional maupun secara khusus di NTT tentang situasi terkini mengenai masalah perdagangan orang. Selain itu peserta dapat bersama-sama memikirkan dan membicarakan langkah-langkah konkrit untuk melakukan pencegahan dan penanganan perdagangan orang dan semakin mahir dalam memberantas kasus perdagangan orang secara berjejaring.

 

Adapun lokasi kunjungan virtual dibagi menjadi empat daerah yakni  Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. Di daerah NTT, peserta diajak mengunjungi beberapa tempat yakni lokasi karya Rumah Harapan GMIT dan Komunitas Penjemput Jenazah PMI Kargo Bandara El Tari – Kupang, Lokasi karya Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores - TRuK F dan Lokasi karya Forum Pemberdayaan Perempuan dan Anak (FPPA) Atambua. Di daerah Jawa Barat peserta diajak mengunjungi lokasi karya Women Crisis Center Mawar Balqis dan SAPA Institut. Di daerah Kalimantan Barat, peserta diajak mengunjungi beberapa tempat yakni lokasi karya Yayasan Parinama Astha dan di daerah Kepulauan Riau mengunjungi lokasi karya Yayasan Embun Pelangi.

 

Pada hari kedua lokalatih diisi dengan materi dari jurnalis TEMPO, Yohanes Seo. Melalui paparannya, para peseta diajak untuk memperdalam topik seputar investigasi. Peserta diperkenalkan tentang tujuan, ruang lingkup, prinsip-prinsip, metode, peluang, tantangan dan langkah/pedoman dalam melakukan Investigasi. Adapun tujuan investigasi adalah memperoleh fakta dan kronologi, mencari akar penyebab dan menentukan tindakan perbaikan agar hal yang sama tidak terjadi Kembali serta mengungkap sesuatu yang tersembunyi. Ruang lingkup investigasi sangat luas karena tidak ada batasan pada satu aspek tertentu, seperti perdagangan orang. Dalam melakukan investigasi, peserta harus berpegang pada prinsip investigasi yakni mencari kebenaran dan wajib mencakup pemanfaatan sumber-sumber bukti yang dapat mendukung fakta yang dipermasalahkan. Adapun metode investigasi dapat dilakukan secara kelompok atau individu. Kegiatan investigasi dimulai dari membuat perencanaan, menentukan topic dan cara melakukan investigasi untuk menyelesaikan topik.

 

Dalam melakukan investigasi, peserta diajak untuk mencari peluang topik pembahasan yang sangat luas, mulai dari berbagai aspek seperti penyelewengan anggaran, penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh pemerintah kemudian isu terkait TPPO. Tidak hanya mencari peluang topik, namun peserta harus mampu menemukan Lembaga yang sedang menangani kasus serupa dalam melakukan investigasi. Tantangan yang dihadapi juga cukup besar, salah satunya adalah pemahaman jurnalis yang minim akan jurnalisme investigasi dan juga dukungan media terhadap pemberitaan jurnalisme investigasi yang masih belum maksimal. Biaya yang dibuthkan dalam melakukan investigasi juga sangat besar. Selain itu, ada resiko terbesar yang muncul dalam melakukan peliputan investigasi yakni kehilangan nyawa.

 

Sehubungan dengan topik lokalatih virtual tentang perdagangan orang, maka dalam pelatihan ditekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan peserta yakni menggunakan pancaindera secara keseluruhan—melatih kepekaan, mendokumentasikan laporan dengan mencatat, merekam, mengabadikan dalam bentuk foto dan video serta melakukan penyimpanan dokumen. Selain itu, peserta diminta mendekati isu secara lebih dekat melalui pendekatan kepada pihak yang berwenang mulai dari pemimpin desa, dinas, imigrasi, kedubes dll. Setelah itu, peserta wajib mengikuti perkembangan isu tentang perdagangan orang. Peserta juga wajib menggandeng media dan tokoh kunci dalam mengungkap kasus yang diangkat dalam investigasi.

 

Pada pertemuan ketiga, peserta diajak untuk mengulang kembali materi pembahasan yang dilakukan pada hari pertama dan kedua serta mempraktekkan investigasi tentang “Perdagangan Orang”. Peserta dibagi kedalam beberapa kelompok, membahas secara lebih rinci mengenai kasus tersebut dan mempersentasikannya kepada peserta yang lainnya. Pada akhir sesi, peserta diajak untuk lebih cermat dalam mendalami kasus perdagangan orang. Peserta wajib  mampu menentukan media publikasi dari investigasi tersebut. Jika investigasi hanya bersifat laporan internal maka peserta wajib menuliskannya secara lebih rinci, tetapi jika hasil investigasi akan dipublikasi kepada khalayak luas yang heterogen maka perlu memperhatikan tata penulisan dengan mempertimbangkan beberapa hal sesuai dengan ketentuan media publikasi yang digunakan. Untuk kalangan religius, ada baiknya menerbitkan laporan investigasi di media internal dan komunitas.