Apa kata-kata Paus Leo XIV tentang migran, pengungsi dan sebagainya selama kunjungannya ke Perancis baru-baru ini?

Apa kata-kata Paus Leo XIV tentang migran, pengungsi dan sebagainya selama kunjungannya ke Perancis baru-baru ini?
 

Dalam kunjungan apostoliknya ke Prancis 25–28 September 2026, Paus Leo XIV beberapa kali berbicara langsung atau sangat dekat dengan isu migran, pengungsi, orang yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan, integrasi, perdagangan manusia, serta martabat manusia. Pernyataan paling penting muncul di UNESCO, Maison Bakhita di Paris, dan Metz.

 

1. Di UNESCO: migran dan pengungsi sebagai “ujian” martabat manusia

Dalam pidatonya di UNESCO, Paris, 25 September, Paus Leo XIV menyebut migran dan pengungsi bersama kelompok-kelompok yang paling rentan: “The touchstone by which we can assess our commitment is the care we show for the littlest and for the poor: … the elderly, migrants, refugees, and all those arrogantly excluded as unproductive.” Artinya: “Tolok ukur yang dengannya kita dapat menilai komitmen kita adalah perhatian yang kita tunjukkan kepada mereka yang paling kecil dan miskin: … kaum lanjut usia, para migran, para pengungsi, dan semua orang yang dengan angkuh disingkirkan karena dianggap tidak produktif.”

Kemudian ia memberikan penekanan yang sangat kuat: “They are the true test of our claims to respect human dignity.” — “Mereka adalah ujian nyata terhadap klaim kita untuk menghormati martabat manusia.”

Jadi, bagi Paus Leo XIV, persoalan migran dan pengungsi bukan sekadar persoalan administratif atau perbatasan. Cara sebuah masyarakat memperlakukan migran dan pengungsi menjadi salah satu ukuran apakah masyarakat itu sungguh menghormati martabat manusia.

 

2. Di Maison Bakhita: “tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan”

Pada 26 September, Paus Leo XIV mengunjungi Maison Bakhita, pusat pendampingan dan integrasi sosial bagi migran dan pengungsi di Paris. Di sana ia mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “No one is so poor as to have nothing to give; no one is so rich as to have nothing to receive.” Terjemahan: “Tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan; tidak seorang pun begitu kaya sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diterima.”

Ini penting karena Paus Leo XIV tidak menggambarkan migran hanya sebagai orang yang membutuhkan bantuan. Migran juga dipandang sebagai subjek yang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada masyarakat penerima. Ia berbicara tentang “exchange of gifts” — pertukaran karunia yang terjadi dalam setiap perjumpaan.

Dengan demikian, integrasi bukan hanya: masyarakat menerima migran → migran menyesuaikan diri. Melainkan lebih merupakan: migran + masyarakat penerima → saling menerima dan saling memperkaya.

 

3. “It is possible to encounter one another and to live together”

Kalimat pembuka Paus Leo XIV di Maison Bakhita juga sangat kuat: “It is possible to encounter one another and to live together in dignity and peace.” Terjemahannya: “Adalah mungkin bagi kita untuk saling berjumpa dan hidup bersama dalam martabat dan damai.”

Ia melihat Maison Bakhita sebagai kesaksian konkret bahwa perjumpaan lintas asal-usul dan budaya bukan sesuatu yang mustahil. Ia bahkan berterima kasih kepada para pekerja dan relawan yang memberikan: “welcome, a listening ear, formation and friendship” yakni: “penyambutan, telinga yang mau mendengarkan, pembinaan, dan persahabatan.”

Ini menarik karena empat kata tersebut membentuk semacam model pastoral migrasi: bukan sekadar memberi bantuan material, tetapi menyambut – mendengarkan – membina – bersahabat.

 

4. Di Metz: jalur migrasi yang aman dan legal

Pernyataan paling eksplisit mengenai kebijakan migrasi disampaikan Paus Leo XIV di Metz, 28 September, dalam pertemuan “At the Roots of Europe for Peace and Unity.” Ia mengatakan bahwa Eropa sedang memasuki tahap baru sejarahnya karena kedatangan:“so many men and women fleeing war and persecution or seeking a better life far from poverty and hardship.” — “begitu banyak laki-laki dan perempuan yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan atau mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari kemiskinan dan kesulitan.”

Lalu ia mengutip kembali pernyataannya ketika mengunjungi Kepulauan Canary: “Human dignity demands legal and safe pathways, rescue and assistance, real cooperation against traffickers, effective protection for victims, serious processes of reception and integration, and policies that allow every person to live with dignity in their own land.” Ini dapat diterjemahkan: “Martabat manusia menuntut adanya jalur-jalur yang legal dan aman, penyelamatan dan bantuan, kerja sama nyata melawan para penyelundup/perdagangan manusia, perlindungan efektif bagi para korban, proses penerimaan dan integrasi yang sungguh-sungguh, serta kebijakan yang memungkinkan setiap orang hidup bermartabat di tanah airnya sendiri.”

Kalimat ini sangat penting karena merangkum enam unsur pendekatan Paus Leo XIV:

  1. jalur legal dan aman bagi migrasi;
  2. penyelamatan dan bantuan;
  3. kerja sama melawan para trafficker;
  4. perlindungan efektif bagi korban;
  5. penerimaan dan integrasi yang serius;
  6. pembangunan kondisi yang memungkinkan orang hidup bermartabat di negeri asalnya.

 

5. Tetapi: menerima saja tidak cukup — harus ada integrasi

Paus Leo XIV kemudian menambahkan kalimat yang menurut saya sangat penting: “However, this alone would not suffice.” — “Namun, semua itu saja belumlah cukup.”

Kemudian: “To welcome a person means to integrate them as if they were part of one’s own family.” Artinya: “Menyambut seseorang berarti mengintegrasikannya seolah-olah ia adalah bagian dari keluarga sendiri.”

Ia melanjutkan bahwa orang tersebut harus diberi kesempatan:“to develop their gifts, abilities and sensibilities, but also to enter into the life of the household.” — “untuk mengembangkan karunia, kemampuan dan kepekaan mereka, tetapi juga untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga [masyarakat] itu.”

Jadi integrasi bagi Paus Leo XIV bukan sekadar memasukkan orang ke dalam sistem administrasi negara. Integrasi berarti menjadi bagian dari kehidupan bersama.

 

6. Migrasi sebagai perjumpaan bangsa dan budaya

Masih di Metz, Paus Leo XIV menggunakan kerangka yang lebih luas:“an unprecedented encounter between peoples and cultures” — “sebuah perjumpaan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan.”

Ia menghubungkan migrasi dengan tugas Eropa untuk: “rediscover our roots in new and creative ways, while at the same time listening carefully to others.” — “menemukan kembali akar-akarnya dengan cara-cara baru dan kreatif, sambil pada saat yang sama mendengarkan dengan sungguh-sungguh orang lain.”

Jadi migrasi tidak hanya dipandang sebagai masalah yang harus dikelola, tetapi juga sebagai perjumpaan historis antara bangsa dan budaya.

 

7. Ini sangat dekat dengan pesan Hari Migran dan Pengungsi 2026

Yang menarik, pernyataan Paus Leo XIV di Prancis sebenarnya konsisten dengan Pesan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112 (2026), yang bertema: “Even just one of these children” — “Bahkan hanya satu dari anak-anak ini.”

Dalam pesan tersebut ia mengatakan bahwa persoalan migrasi harus bergeser dari sekadar “management of migration” menuju: “the full and immediate protection of human rights” — “perlindungan penuh dan segera terhadap hak-hak asasi manusia.”  Ia juga menyerukan perlindungan, penyambutan, reunifikasi keluarga, dan kesempatan integrasi bagi anak-anak migran dan pengungsi.

Kalau dirangkum dalam satu gagasan 

Benang merah pernyataan Paus Leo XIV di Prancis dapat dirumuskan demikian: Migran dan pengungsi bukan sekadar “persoalan migrasi”; mereka adalah manusia yang martabatnya menguji kualitas masyarakat kita. Dan ada semacam tiga tahap yang sangat jelas:

1. PROTECTION — perlindungan
Jalur legal dan aman, penyelamatan, perlindungan korban, melawan trafficker.
 
2. WELCOME — penyambutan
Menerima manusia yang datang karena perang, penganiayaan, kemiskinan atau kesulitan.
 
3. INTEGRATION — integrasi
Bukan sekadar membiarkan mereka tinggal, tetapi memungkinkan mereka menjadi bagian dari kehidupan bersama dan menyumbangkan karunia mereka.

Dan di atas semuanya terdapat prinsip: HUMAN DIGNITY — MARTABAT MANUSIA.

Ini juga sangat relevan dengan tema Talitha Kum/TPPO yang pernah dibahas: Paus Leo XIV secara eksplisit menghubungkan migrasi dengan traffickers, perlindungan korban, jalur migrasi aman, dan integrasi.