KUNJUNGAN APOSTOLIK PAUS LEO XIV KE PRANCIS, 25–28 SEPTEMBER 2026
menggemakan tema-tema utama
Magnifica Humanitas

1. AI harus ditempatkan kembali di bawah martabat manusia
Di Élysée, 25 September, Paus mengatakan bahwa justru karena perkembangan teknologi dan AI, ia merasa perlu menjadikan kecerdasan buatan tema ensiklik pertamanya:
“...in my first Encyclical, the theme of Artificial Intelligence, in order to place the human person at the heart of all reflection.”
Ia kemudian memperingatkan agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah “paradise of machines” yang memasuki dan mengondisikan kehidupan sehari-hari. Karena itu diperlukan pendidikan bagi penilaian etis, agar manusia mampu mengenali apa yang secara moral baik. (Vatican Press)
Ini sangat dekat dengan garis besar Magnifica Humanitas: AI bukan pusat kehidupan manusia; manusia, martabatnya, kebebasan batinnya, dan kebaikan bersama harus tetap menjadi pusat.
2. “Paradise of machines” versus manusia
Di UNESCO, Paris, Paus memperdalam gagasan tersebut. Ia mengatakan bahwa selama berabad-abad semakin banyak pekerjaan manusia diserahkan kepada mesin. Kini bahkan sistem artifisial diberi nama “intelligence”, sementara pada saat yang sama manusia justru menghadapi risiko dehumanisasi.
Paus merumuskan paradoksnya:
sementara “intelligence” diberikan kepada sistem komputasional, kita justru semakin sulit mengakui martabat manusia yang tidak dapat dicabut. (Vatican City)
Ini merupakan salah satu titik paling penting untuk menghubungkan kunjungan Prancis dengan Magnifica Humanitas: AI dapat memiliki kemampuan komputasional, tetapi tidak boleh membuat manusia dinilai hanya berdasarkan efisiensi, produktivitas, atau kegunaan ekonominya.
3. Manusia yang tidak produktif tidak boleh “dibuang”
Di UNESCO, Paus menggunakan bahasa yang sangat kuat: kehidupan manusia dapat dinilai berdasarkan kriteria efisiensi, dan ketika seseorang dianggap tidak lagi produktif, ia dapat ditolak dan disingkirkan. (Vatican City)
Kemudian ia menegaskan:
- martabat manusia tetap utuh dalam keadaan paling rentan;
- martabat tidak bergantung pada kemampuan seseorang;
- penderitaan tidak menghancurkan martabat;
- manusia membutuhkan perawatan penuh kasih pada setiap tahap kehidupan. (Vatican City)
Dengan demikian, pesan AI Paus sebenarnya lebih luas daripada soal teknologi. Yang dipertaruhkan adalah antropologi: Apa arti menjadi manusia?
4. Teknologi harus melayani manusia, bukan menjadi alat dominasi
Di UNESCO Paus menyatakan secara eksplisit bahwa perkembangan teknologi harus memastikan bahwa teknologi baru: “remain at the service of the human person” dan tidak berubah menjadi instrumen dominasi dan ketidakadilan. (Vatican City).
Ini merupakan prinsip kunci Magnifica Humanitas: teknologi adalah sarana; manusia adalah tujuan. Dengan kata lain:
- Manusia → menentukan tujuan
- Etika → menilai arah
- Politik/hukum → mengatur kekuasaan
- Teknologi/AI → menjadi sarana
- Bukan sebaliknya.
5. AI tidak dapat menjawab pertanyaan tentang makna hidup
Masih di UNESCO, Paus membuat pembedaan yang menarik. Sistem AI dapat menghubungkan dan mengolah data, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan mengenai makna kehidupan manusia, karena makna berakar pada pengalaman hidup manusia. (Vatican City)
Karena itu ia mengatakan bahwa: “Meaning is the oxygen of the mind.”. Dan dari sini ia menghubungkan AI dengan pendidikan. Jadi masalah AI bukan hanya masalah teknologi informasi. Menurut kerangka yang ia gunakan di UNESCO, ini sekaligus merupakan persoalan: AI, informasi, kebenaran, pendidikan, penilaian etis, martabat manusia.
6. Informasi tidak sama dengan kebijaksanaan
Ini juga sangat penting dalam perspektif Magnifica Humanitas. Paus mengatakan bahwa komunikasi sekarang jauh lebih cepat, tetapi tidak otomatis lebih benar; informasi melimpah, tetapi informasi bukan kebijaksanaan. Tanpa landasan etis bersama, saluran komunikasi dapat memperbanyak informasi palsu dan menghambat dialog. (Vatican City)
Dengan demikian, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi manusia yang mampu menilai penggunaan teknologi.
7. Anak dan kaum muda tidak boleh menjadi objek eksploitasi digital
Paus juga meminta perhatian khusus terhadap perlindungan anak dan kaum muda. Dalam era digital, kerentanan mereka tidak boleh menjadi kesempatan untuk eksploitasi.
Teknologi, menurutnya, harus membantu:
- Pertumbuhan;
- Pendidikan;
- Hubungan antarmanusia;
- Kebebasan berpikir;
- Kemampuan membedakan dan menilai.
Dan semuanya harus tetap melayani martabat manusia. (Vatican City)
Ini sangat relevan dengan bagian Magnifica Humanitas yang membahas kelompok rentan dan risiko eksploitasi melalui teknologi.
8. AI juga mempunyai dimensi ekologis
Menariknya, sehari sebelum kunjungan ke Prancis, 24 September, Paus berbicara kepada Pontifical Academy of Sciences. Ia secara eksplisit menghubungkan AI dengan Magnifica Humanitas dan menyebut no. 101, yang membahas konsumsi energi, air, emisi karbon, dan penggunaan sumber daya oleh sistem AI. (Vatican City)
Ia juga menghubungkan perubahan iklim dengan: keadilan → martabat manusia → solidaritas antarmanusia → solidaritas antargenerasi.
Jadi AI dalam kerangka Paus tidak dapat dibahas hanya sebagai inovasi digital. Ada jejak ekologis AI yang harus diperhitungkan.
9. Sains membutuhkan etika
Dalam pidato yang sama, Paus mengatakan bahwa kemajuan teknologi bukan sekadar persoalan teknis. Setiap teknologi secara eksplisit maupun implisit mencerminkan pemahaman tertentu mengenai:
- Manusia;
- Masyarakat;
- Masa depan yang ingin dibangun. (Vatican City)
Karena semakin besar kemampuan manusia mengubah dunia, semakin besar pula tanggung jawab untuk membedakan apa yang sungguh-sungguh melayani martabat manusia dan siapa yang akan menanggung akibat keputusan tersebut.
Ini sangat dekat dengan prinsip Magnifica Humanitas: semakin besar kekuasaan teknologis, semakin besar tanggung jawab moral.
10. Babel versus Pentecostes
Ada satu tema UNESCO yang menurut saya sangat menarik untuk proyek-proyek yang sedang Anda kerjakan: Paus berbicara mengenai “corruption of culture” dan kemudian menawarkan “public square of Pentecost” sebagai jalan keluarnya.
Ia membedakan:
Babel → dominasi, fragmentasi, bahasa yang kehilangan makna, kekuasaan.
dengan:
Pentekosta → setiap bangsa mendengar dalam bahasanya sendiri, tetapi perbedaan tidak dihapus; perbedaan justru dapat berkembang dalam harmoni. (Vatican City)
Ia bahkan mengatakan bahwa “unity” tidak berarti menghapus perbedaan. Kesatuan justru memungkinkan keragaman berkembang. Ini dapat dibaca sebagai konsekuensi sosial-politik dari visi Magnifica Humanitas: teknologi komunikasi global tidak boleh menghasilkan homogenisasi atau dominasi, melainkan komunikasi yang menghormati manusia, budaya dan perbedaan.
Jadi, apa hubungan kunjungan Prancis dengan Magnifica Humanitas?
Enam benang merah utama:
|
Magnifica Humanitas |
Pesan Paus di Prancis |
|
Martabat manusia |
Manusia tidak boleh dinilai berdasarkan efisiensi |
|
AI |
AI harus tetap menjadi sarana bagi manusia |
|
Kebebasan |
Pendidikan harus membentuk kemampuan discernment |
|
Etika |
Kemajuan teknologi membutuhkan landasan moral |
|
Keadilan sosial |
Yang rentan tidak boleh dikorbankan demi efisiensi |
|
Ekologi |
AI mempunyai konsumsi energi, air, dan jejak karbon |
|
Pendidikan |
Informasi ≠ kebijaksanaan |
|
Dialog |
Teknologi harus memperkuat, bukan menghancurkan, dialog |
|
Keragaman budaya |
Pentekosta: kesatuan tanpa menghapus perbedaan |
|
Kebaikan bersama |
Teknologi tidak boleh menjadi instrumen dominasi |
Dengan demikian, kunjungan Prancis dapat dibaca sebagai semacam “penerapan lapangan” Magnifica Humanitas. Paus tidak sekadar berbicara tentang AI sebagai teknologi, tetapi tentang krisis pemahaman mengenai manusia di tengah kekuatan teknologi. Dan ada satu kalimat yang menurut saya dapat menjadi payung untuk seluruh pesan itu: “Technology must remain at the service of the human person.” (Vatican City)
Ini sekaligus menjelaskan mengapa bagi Paus persoalan AI akhirnya menyentuh martabat, pendidikan, demokrasi, keadilan, perdamaian, kaum rentan, budaya, dan ekologi.
Teks resmi pidato Paus Leo XIV di UNESCO, 25 September 2026
Teks resmi pidato Paus kepada otoritas Prancis di Élysée, 25 September 2026
Pidato Paus kepada Pontifical Academy of Sciences, 24 September 2026
(Jakarta, September 2026 - Sahabat Insan, Ignatius Ismartono, SJ)


