DOA BERSAMA DAN AKSI SOLIDARITAS UNTUK KORBAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA, KALIMANTAN, DAN PAPUA
Jakarta – Kepedulian terhadap korban kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua diwujudkan melalui kegiatan Doa Bersama dan Aksi Solidaritas yang berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 18.30–20.30 WIB, di Tugu Proklamasi, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan untuk menyampaikan keprihatinan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap manusia, satwa, dan alam yang terdampak kebakaran.
Mengusung seruan “Nyaris di Ujung Batas Pengharapan, Kita Berupaya Mengikat Solidaritas bagi Alam dan Jiwa di Sumatera, Kalimantan, dan Papua”, kegiatan ini mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam dalam menghadapi kerusakan hutan dan penderitaan warga. Melalui doa bersama, para peserta diajak menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama, tanpa dibatasi oleh perbedaan agama, keyakinan, dan latar belakang.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh berulangnya kebakaran hutan dan lahan yang mengancam kehidupan masyarakat serta merusak lingkungan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga yang harus menghirup udara bercampur asap, tetapi juga anak-anak, lanjut usia, masyarakat adat, para relawan, petugas pemadam kebakaran, serta satwa yang kehilangan tempat hidupnya. Hutan yang terbakar turut mengancam keseimbangan alam dan kehidupan generasi mendatang.
Persoalan kebakaran juga disoroti melalui kajian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) berjudul Kajian Peta Aktor: Siapa di Balik Api? (2026). Dalam kajian tersebut ditegaskan, “Temuan titik panas di areal konsesi bukan sekadar soal siapa yang melakukan pembakaran, tetapi juga siapa yang lalai mencegah kebakaran dan mengapa negara membiarkan situasi tersebut terus berulang.” Pernyataan ini mengingatkan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya dengan mencari pelaku pembakaran, tetapi juga harus menelusuri kelalaian pihak yang bertanggung jawab serta peran negara dalam mencegah bencana serupa terulang.

Doa bersama dipanjatkan oleh perwakilan berbagai agama, yakni Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan Suster Elis berdoa secara Katolik. Setiap doa membawa pesan tentang perlindungan bagi korban, pemulihan hutan, keselamatan seluruh makhluk hidup, serta kesadaran manusia untuk menjaga bumi. Kegiatan ini juga mengajak peserta membawa lilin dan untaian doa sebagai lambang harapan dan kepedulian. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam seruan kegiatan, “Doa-doa kita adalah ikhtiar untuk menenun kesadaran bersama bagi alam dan sesama yang tidak bisa bersuara.”
Perjumpaan ini diwarnai oleh banyaknya orang muda. Mereka adalah pewaris Indonesia zaman ini. Semoga generasi muda Indonesia tidak akan mewarisi sisa-sisa hutan yang telah menjadi arang. Keterlibatan berbagai kalangan ini mencerminkan pentingnya kerja bersama dalam menyuarakan perlindungan lingkungan dan membela hak masyarakat atas udara bersih serta lingkungan yang sehat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak menjadikan doa sebagai langkah awal untuk melakukan tindakan nyata. Upaya mencegah pembakaran hutan dan lahan, memulihkan lingkungan, mendampingi warga terdampak, serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang lalai perlu terus dilakukan. Solidaritas tidak boleh berhenti pada pertemuan dan untaian doa, tetapi harus tumbuh menjadi kepedulian dan tindakan berkelanjutan demi menjaga bumi sebagai rumah bersama.


Penulis dan Dokumentasi: Maria Fransiska Saraswati
Instagram: @ayaz1006


