VOX VICTIMAE VOX DEI
Vox Victimae Vox Dei mengajak kita mendengarkan suara korban, menghormati martabat mereka, serta berjalan bersama dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.
MENDENGAR SUARA KORBAN, BUKAN SEKADAR MENGASIHANI MEREKA
"Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku... Aku telah mendengar seruan mereka."
(Keluaran 3:7)
Belakangan ini kita semakin sering mendengar ungkapan Latin Vox victimae vox Dei, yang berarti "Suara korban adalah suara Allah." Ungkapan ini indah sekaligus menggugah. Ia mengingatkan kita bahwa Allah tidak menutup telinga terhadap orang-orang yang menderita. Allah selalu berpihak kepada mereka yang diperlakukan tidak adil.
Namun, ungkapan ini juga dapat disalahpahami. Bila tidak dijelaskan dengan baik, orang dapat mengira bahwa setiap perkataan korban pasti benar, atau bahwa siapa pun yang menjadi korban otomatis mewakili kehendak Allah. Bukan itu maksudnya.
Ungkapan ini sesungguhnya mengajak kita untuk mengubah cara memandang korban.
Selama ini kita sering melihat korban hanya dari lukanya. Kita merasa iba, lalu memberi bantuan. Setelah itu kita pulang dengan perasaan sudah berbuat baik. Padahal, mungkin kita belum sungguh-sungguh mendengarkan mereka.
Korban bukan hanya orang yang terluka. Mereka juga manusia yang berpikir, merasakan, berharap, mengambil keputusan, mencintai keluarganya, bekerja keras, berdoa, dan berjuang mempertahankan martabatnya. Mereka bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah pribadi yang memiliki suara.
Karena itu, ketika kita mengatakan Vox victimae vox Dei, yang kita hormati bukan pertama-tama penderitaannya, melainkan martabat manusianya. Allah memang mendengar jeritan orang yang tertindas. Tetapi Allah juga berbicara melalui harapan mereka, keberanian mereka untuk bangkit, kesetiaan mereka kepada keluarga, dan tekad mereka untuk tetap hidup secara bermartabat.
Seorang korban perdagangan manusia yang berani bersaksi agar orang lain tidak mengalami nasib yang sama sedang mengajarkan keberanian. Seorang pengungsi yang tetap menyekolahkan anak-anaknya meskipun hidup dalam ketidakpastian sedang mengajarkan pengharapan. Seorang penyintas kekerasan yang memilih tidak membalas dendam sedang mengajarkan pengampunan.
Di dalam suara-suara seperti itulah Allah dapat berbicara kepada kita.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya belas kasihan, melainkan kesediaan untuk mendengarkan.
- Sering kali kita terlalu cepat memberikan solusi sebelum memahami persoalannya.
- Sering kali kita berbicara atas nama korban tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya mereka inginkan.
- Sering kali kita menganggap mereka lemah, padahal mereka memiliki kekuatan yang tidak kita miliki.
Belas kasihan memang penting. Bantuan kemanusiaan juga penting. Pelayanan sosial sangat diperlukan. Namun semuanya akan kehilangan maknanya bila kita tidak menghormati korban sebagai sesama manusia yang memiliki kebebasan, akal budi, pengalaman, dan hikmat hidup.
- Mendengarkan jauh lebih sulit daripada berbicara.
- Menghormati lebih sulit daripada mengasihani.
- Berjalan bersama jauh lebih sulit daripada sekadar memberi.
Itulah sebabnya, Vox victimae vox Dei bukanlah semboyan untuk memuliakan penderitaan. Allah tidak pernah menghendaki adanya korban. Yang dimuliakan bukanlah penderitaannya, melainkan manusia yang tetap mempertahankan martabatnya di tengah penderitaan.
Ungkapan ini juga bukan berarti bahwa setiap perkataan korban pasti benar. Korban tetap manusia yang dapat keliru seperti semua orang. Akan tetapi, pengalaman mereka membuka mata kita terhadap kenyataan yang sering tidak terlihat oleh mereka yang hidup nyaman. Dari sudut pandang korban, kita dapat melihat bagaimana ketidakadilan bekerja, bagaimana kekuasaan disalahgunakan, dan bagaimana martabat manusia dapat diinjak-injak.
Karena itu, suara korban memiliki nilai moral yang istimewa. Bukan karena mereka selalu benar, melainkan karena pengalaman hidup mereka menyingkapkan kebenaran yang sering disembunyikan oleh kekuasaan, kepentingan, atau sikap acuh tak acuh.
- Jika Gereja ingin setia kepada Kristus, Gereja harus belajar mendengarkan sebelum berbicara.
- Jika masyarakat ingin menjadi lebih adil, masyarakat harus belajar melihat korban bukan sebagai beban, melainkan sebagai sesama.
- Jika negara ingin sungguh melindungi warganya, kebijakan tidak boleh hanya mengurus berkas dan angka statistik, tetapi juga menghormati martabat setiap pribadi.
Akhirnya, Vox victimae vox Dei adalah undangan untuk bertobat.
- Bertobat dari sikap yang hanya mengasihani tanpa mendengarkan.
- Bertobat dari kebiasaan berbicara atas nama orang lain tanpa memberi mereka kesempatan berbicara.
- Bertobat dari cara pandang yang melihat manusia hanya sebagai objek bantuan.
Sebab Allah tidak hanya hadir di dalam air mata korban. Allah juga hadir di dalam keberanian mereka untuk bangkit, berharap, mengampuni, mencintai, dan terus memperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi. Di situlah suara korban sungguh menjadi suara yang membawa kita semakin dekat kepada suara Allah.
MEMAHAMI VOX VICTIMAE VOX DEI:
YANG SERING DISALAHPAHAMI DAN MAKNA YANG SESUNGGUHNYA
|
Pemahaman yang Keliru |
Pemahaman yang Benar |
|
Setiap perkataan korban pasti merupakan kehendak Allah. |
Pengalaman korban mempunyai bobot moral yang istimewa, tetapi tetap perlu didengarkan dan ditimbang dengan kebijaksanaan. |
|
Korban hanya perlu dikasihani. |
Korban perlu dihormati sebagai pribadi yang memiliki martabat, suara, dan kemampuan untuk menentukan hidupnya. |
|
Yang penting memberi bantuan. |
Bantuan penting, tetapi yang lebih penting adalah mendengarkan, menghormati, dan berjalan bersama mereka. |
|
Korban hanyalah objek pelayanan. |
Korban adalah subjek yang dapat mengajar kita tentang keberanian, harapan, dan ketekunan. |
|
Allah hanya hadir dalam penderitaan korban. |
Allah juga hadir dalam kekuatan, iman, harapan, dan perjuangan korban untuk bangkit. |
|
Menjadi korban berarti menjadi lemah. |
Banyak korban menunjukkan ketangguhan, kebijaksanaan, dan daya juang yang luar biasa. |
|
Tugas Gereja adalah berbicara atas nama korban. |
Tugas Gereja pertama-tama adalah mendengarkan suara korban, lalu berjalan bersama mereka. |
|
Yang penting menyelesaikan masalah korban. |
Yang lebih penting adalah memulihkan martabat korban sehingga mereka dapat kembali menjadi pelaku hidupnya sendiri. |
|
Korban adalah beban masyarakat. |
Korban adalah sesama manusia yang mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk membangun masyarakat yang lebih adil. |
|
Vox victimae vox Dei memuliakan penderitaan. |
Vox victimae vox Dei memuliakan martabat manusia yang tetap bersinar di tengah penderitaan. |
(Jakarta, Juli 2026 – Ignatius Ismartono, SJ)


