KORESPONDENSI LATIHAN ROHANI SANTO IGNATIUS DAN AJARAN GEREJA MUTAKHIR
Pendahuluan
Latihan Rohani Santo Ignatius dan Ajaran Sosial Gereja merupakan dua kenyataan yang lahir dari konteks sejarah yang berbeda. Latihan Rohani disusun Santo Ignatius Loyola pada abad ke-16 sebagai jalan untuk membantu manusia mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidupnya. Sementara itu, Laudato Si, Fratelli Tutti, Laudate Deum, dan Magnifica Humanitas lahir dalam konteks dunia modern yang menghadapi persoalan ekologis, sosial, ekonomi, politik, dan teknologi yang semakin kompleks.
Namun, perbedaan zaman dan bentuk tersebut tidak menghalangi adanya hubungan yang sangat erat. Keduanya mempunyai satu keprihatinan mendasar: bagaimana iman kepada Allah diwujudkan dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, keduanya bertemu dalam apa yang dalam tradisi Ignasian dirumuskan sebagai faith that does justice, iman yang mengusahakan keadilan.
Karena itu, Latihan Rohani tidak perlu dipandang hanya sebagai buku spiritualitas pribadi, sementara Ajaran Sosial Gereja hanya dipandang sebagai kumpulan dokumen mengenai masalah sosial. Keduanya dapat dibaca sebagai dua sisi dari satu gerakan iman: Allah ditemukan dalam doa dan discernment, lalu pengalaman akan Allah itu diwujudkan dalam pilihan dan tindakan yang membawa keadilan, persaudaraan, perdamaian, dan kepedulian terhadap ciptaan.
1. Dua entitas yang berbeda, satu keprihatinan
Latihan Rohani Santo Ignatius dan Ajaran Sosial Gereja adalah dua entitas yang berbeda.
Latihan Rohani terutama berbicara mengenai pertobatan pribadi, kebebasan batin, discernment, pilihan, dan pengutusan. Orang yang menjalani Latihan Rohani diajak untuk menata hidupnya sedemikian rupa sehingga dapat mencari dan menemukan kehendak Allah serta memilih apa yang semakin membawa dirinya kepada pelayanan Allah dan sesama.
Ajaran Sosial Gereja, sebaliknya, berhadapan dengan persoalan konkret masyarakat: kemiskinan, ketidakadilan, perang, migrasi, eksploitasi lingkungan, perubahan iklim, ekonomi yang tidak adil, perkembangan teknologi, dan sekarang kecerdasan buatan. Magnifica Humanitas, misalnya, secara eksplisit menempatkan Ajaran Sosial Gereja sebagai suatu discernment bersama dalam membaca perkembangan sejarah manusia dan tantangan zaman. ([Vatican][1])
Perbedaannya dapat dirumuskan sederhana:
- Latihan Rohani terutama bergerak dari dalam ke luar; Ajaran Sosial Gereja mengajak Gereja membaca realitas dunia dan membawa iman ke dalam realitas tersebut.
Tetapi keduanya bertemu dalam satu pertanyaan:
- Bagaimana iman kepada Allah mengubah cara kita melihat, menilai, memilih, dan bertindak?
Di situlah letak hubungan mendasarnya.
2. Dari iman menuju keadilan
Iman Kristen tidak dimaksudkan untuk berhenti pada keyakinan pribadi. Iman mengubah cara seseorang memandang dirinya, sesama manusia, masyarakat, alam semesta, dan sejarah.
Dalam tradisi Ignasian, pengalaman akan Allah membawa seseorang kepada pertanyaan mengenai pilihan hidup. Apa yang harus saya lakukan dengan hidup yang telah saya terima dari Allah? Untuk siapa kemampuan saya digunakan? Apa yang menjadi kehendak Allah dalam situasi konkret yang saya hadapi?
Karena itu, spiritualitas Ignasian mempunyai gerak yang sangat jelas:
pengalaman akan Allah → pertobatan → discernment → pilihan → tindakan → pelayanan.
Di sinilah muncul hubungan yang sangat kuat dengan gagasan faith that does justice.
Iman yang benar tidak hanya membuat seseorang semakin dekat dengan Allah. Iman juga membuatnya semakin peka terhadap penderitaan manusia dan semakin bertanggung jawab terhadap dunia yang dipercayakan Allah kepadanya.
Maka, semakin dalam seseorang mengalami Allah, seharusnya semakin dalam pula kepekaannya terhadap ketidakadilan.
3. Nomor 352: thinking, judging, and feeling with the Church
Hubungan ini menjadi semakin jelas ketika kita membaca Latihan Rohani nomor 352–370, khususnya apa yang disebut Ignatius sebagai “Rules for Thinking, Judging, and Feeling with the Church.”
Pada nomor 352, Ignatius memberikan pengantar bagi aturan-aturan tersebut sebagai cara untuk memiliki sikap yang tepat dalam Gereja. ([Centro Ignaziano di Spiritualità][2])
Ungkapan ini penting karena menyangkut tiga dimensi manusia sekaligus:
- thinking — berpikir,
- judging — menilai,
- feeling — merasakan.
Dengan demikian, sentire cum Ecclesia bukan sekadar persoalan “setuju dengan Gereja”. Lebih dalam daripada itu, ia berarti belajar melihat dunia dengan iman Gereja; membentuk pikiran, penilaian, perasaan, dan akhirnya tindakan agar selaras dengan Injil.
Dalam konteks zaman sekarang, sikap ini dapat berarti: Saya tidak hanya bertanya apa pendapat saya mengenai kemiskinan, perubahan iklim, perang, migrasi, ekonomi atau kecerdasan buatan. Saya juga bertanya: bagaimana Gereja, dalam terang Injil dan Tradisinya, membaca kenyataan tersebut?
Pertanyaan tersebut sangat dekat dengan cara kerja Ajaran Sosial Gereja.
4. Nomor 361 dan cinta kepada Gereja
Nomor 361 termasuk dalam rangkaian aturan sentire cum Ecclesia. Dalam konteks abad ke-16, Ignatius meminta agar orang beriman memuji perintah-perintah Gereja dan siap menemukan alasan untuk mempertahankannya, bukan sekadar mencari alasan untuk mengkritiknya. ([Centro Ignaziano di Spiritualità][2])
Tentu saja, aturan tersebut harus dibaca dalam konteks sejarahnya. Namun, prinsip spiritual yang dapat kita tarik tetap sangat penting:
- Gereja bukan hanya sesuatu yang kita nilai dari luar; Gereja adalah komunitas iman yang kita cintai dan yang ikut menjadi tanggung jawab kita.
Mencintai Gereja berarti menginginkan agar Gereja semakin setia kepada Kristus dan Injil.
Karena itu, sentire cum Ecclesia pada zaman kita tidak harus berarti menutup mata terhadap kelemahan Gereja. Justru sebaliknya. Karena mencintai Gereja, kita ikut bertanggung jawab agar Gereja semakin menjadi pembawa keadilan, perdamaian, persaudaraan, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Dengan demikian, seseorang dapat berkata:
- Saya mencintai Gereja, karena itu saya peduli terhadap orang miskin.
- Saya mencintai Gereja, karena itu saya peduli terhadap bumi.
- Saya mencintai Gereja, karena itu saya peduli terhadap korban ketidakadilan.
- Saya mencintai Gereja, karena itu saya peduli bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan digunakan.
Inilah salah satu cara sentire cum Ecclesia dapat dihayati dalam konteks abad ke-21.
5. Laudato Si’: pertobatan ekologis
Hubungan antara Latihan Rohani dan Laudato Si’ menjadi sangat jelas dalam tema pertobatan.
Laudato Si’ nomor 216 mengingatkan bahwa spiritualitas Kristiani mempunyai kekayaan besar untuk membantu pembaruan manusia. Injil tidak hanya memengaruhi apa yang kita pikirkan, tetapi juga cara kita berpikir, merasa, dan hidup. Karena itu, kepedulian terhadap dunia tidak dapat bertahan hanya dengan doktrin; diperlukan dorongan batin yang menggerakkan dan memberi makna kepada tindakan pribadi maupun bersama. ([Vatican][3])
Nomor 217 kemudian berbicara tentang pertobatan ekologis. Pertobatan ini membuat akibat perjumpaan dengan Yesus Kristus menjadi nyata dalam hubungan kita dengan dunia di sekitar kita. Menjadi penjaga karya Allah bukan sesuatu yang sekunder atau pilihan tambahan dalam kehidupan Kristiani. ([Vatican][3])
Di sini terdapat korespondensi yang sangat jelas dengan spiritualitas Ignasian.
Latihan Rohani mengajak seseorang mengalami pertobatan dan menata hidupnya menurut kehendak Allah.
Laudato Si’ memperlihatkan salah satu konsekuensi konkret dari pertobatan itu:
- Jika saya sungguh mengalami Allah sebagai Pencipta dan Kristus sebagai Penebus, bagaimana saya memperlakukan ciptaan?
Pertanyaan ekologis dengan demikian menjadi pertanyaan spiritual.
6. Dari kontemplasi menuju tindakan
Spiritualitas Ignasian tidak berhenti pada kontemplasi. Salah satu ciri pentingnya adalah hubungan erat antara kontemplasi dan tindakan. Orang yang berdoa tidak hanya mencari pengalaman yang indah. Ia ingin menemukan kehendak Allah dan melaksanakannya. Hal ini sangat sesuai dengan Laudato Si’.
Kita dapat membayangkan prosesnya sebagai berikut:
- Melihat: Saya melihat sungai tercemar, hutan rusak, udara tercemar, masyarakat miskin terkena dampak perubahan iklim.
- Merasakan : Saya tidak lagi melihatnya sebagai data statistik semata. Saya merasakan penderitaan manusia dan kerusakan ciptaan.
- Discernment : Saya bertanya: apa yang sedang terjadi? Mengapa hal itu terjadi? Siapa yang paling menderita? Apa hubungan gaya hidup saya dengan persoalan tersebut?
- Memilih : Saya menentukan sikap dan perubahan yang harus dilakukan.
- Bertindak : Saya mengambil bagian dalam usaha memperbaiki keadaan.
Dengan demikian, kontemplasi menjadi tindakan.
Inilah hubungan mendalam antara spiritualitas Ignasian dan spiritualitas ekologis Laudato Si’.
7. Fratelli Tutti: manusia lain adalah saudara
Jika Laudato Si’ memperluas perhatian iman kepada rumah bersama, Fratelli Tutti memperluasnya kepada persaudaraan manusia.
Paus Fransiskus mengembangkan tema persaudaraan dan persahabatan sosial dengan inspirasi kuat dari Santo Fransiskus dari Assisi. Ia mengajak manusia melampaui batas geografis, sosial, politik, agama, dan berbagai bentuk pemisahan lainnya. ([Vatican][4])
Dalam perspektif Ignasian, hal ini dapat dilihat sebagai perluasan dari pengalaman kasih Allah.
Jika dalam doa saya mengalami bahwa Allah mengasihi saya, saya dipanggil untuk bertanya:
- Bagaimana saya memandang orang lain yang juga dikasihi Allah?
Orang miskin, migran, korban perang, orang yang tersingkir, bahkan orang yang berbeda pandangan dengan saya tidak lagi semata-mata “orang lain”.
Ia adalah saudara.
Dengan demikian:
- Latihan Rohani → pertobatan pribadi
- Fratelli Tutti → persaudaraan sosial.
Pengalaman kasih Allah dalam diri seseorang harus berkembang menjadi kasih yang membangun kehidupan bersama.
8. Laudate Deum: dari kesadaran menuju keberanian bertindak
Laudate Deum melanjutkan keprihatinan Laudato Si’ mengenai krisis ekologis dan iklim. Delapan tahun setelah Laudato Si’, Paus Fransiskus menilai bahwa tanggapan terhadap krisis iklim belum memadai. ([Vatican][5])
Di sini muncul sebuah tantangan penting bagi spiritualitas:
- Kesadaran saja tidak cukup.
- Orang dapat mengetahui bahwa bumi sedang mengalami krisis tetapi tidak mengubah gaya hidupnya.
- Orang dapat berdoa mengenai lingkungan tetapi tidak mau mengubah kebiasaannya.
- Orang dapat berbicara mengenai keadilan tetapi tetap menikmati struktur yang tidak adil.
Dalam bahasa Ignasian, discernment harus berujung pada pilihan. Pilihan kemudian harus berujung pada tindakan. Karena itu, Laudate Deum dapat dibaca sebagai undangan untuk membawa spiritualitas discernment ke dalam keberanian bertindak.
9. Magnifica Humanitas: medan discernment yang baru
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membawa kita kepada medan baru.
Magnifica Humanitas karya Paus Leo XIV, yang diterbitkan pada 15 Mei 2026, secara khusus membahas perlindungan pribadi manusia pada zaman kecerdasan buatan. Dokumen ini menempatkan perkembangan teknologi dalam kerangka martabat manusia, kebaikan bersama, dan Ajaran Sosial Gereja. ([Vatican][1])
Yang menarik, Magnifica Humanitas secara eksplisit berbicara mengenai Ajaran Sosial Gereja sebagai discernment bersama. ([Vatican][1])
Ini sangat dekat dengan metode Ignasian.
Pertanyaannya bukan hanya:
- Apa yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan?
Tetapi:
- Apa yang seharusnya dilakukan manusia dengan kecerdasan buatan?
Dan pertanyaan berikutnya:
- Apakah perkembangan tersebut semakin menghormati martabat manusia, atau justru menguranginya?
Dengan demikian, kecerdasan buatan menjadi medan discernment moral dan spiritual.
Seperti halnya perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan tidak cukup dihadapi dengan pengetahuan teknis. Diperlukan kebijaksanaan untuk membedakan mana yang membawa manusia kepada kehidupan yang lebih manusiawi dan mana yang justru mengancam martabat manusia.
10. Sebuah kesinambungan: dari Ignatius ke Ajaran Gereja Mutakhir
Jika kita melihat seluruhnya secara utuh, terdapat sebuah kesinambungan yang menarik:
- Latihan Rohani → perjumpaan dengan Allah → pertobatan → discernment → pilihan → pelayanan.
- Laudato Si’ → pertobatan ekologis → kepedulian terhadap rumah bersama.
- Fratelli Tutti → pertobatan sosial → persaudaraan dan persahabatan sosial.
- Laudate Deum → kesadaran akan krisis → tanggung jawab → keberanian bertindak.
- Magnifica Humanitas → discernment terhadap perkembangan teknologi → perlindungan martabat manusia → kecerdasan buatan demi kebaikan bersama.
Dengan demikian, keempat dokumen tersebut bukanlah tema-tema yang berdiri sendiri.
Mereka dapat dilihat sebagai medan-medan konkret bagi spiritualitas discernment Ignasian pada zaman sekarang.
11. Dari cura personalis menuju kepedulian terhadap dunia
Spiritualitas Ignasian mempunyai ungkapan yang sangat penting: cura personalis, perhatian terhadap pribadi manusia secara utuh.
Namun tantangan zaman kita mengajak kita memperluas cakrawala kepedulian tersebut.
- Dari: cura personalis - kepedulian terhadap pribadi,
- menuju: cura societatis - kepedulian terhadap masyarakat,
- kemudian: cura creationis - kepedulian terhadap ciptaan,
- dan akhirnya: cura futurae generationis - kepedulian terhadap generasi mendatang.
Di sini manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat yang berdiri di luar dunia. Ia menyadari bahwa dirinya berada dalam jaringan relasi: dengan Allah, sesama, alam, masyarakat, teknologi, dan generasi yang akan datang.
Itulah salah satu wajah dari pertobatan integral.
12. Faith that does justice sebagai jembatan
Dengan demikian, faith that does justice dapat menjadi jembatan yang menghubungkan Latihan Rohani dengan Ajaran Sosial Gereja.
- Iman mengatakan: Allah mengasihi manusia.
- Karena itu: manusia harus menghormati manusia lain.
- Jika manusia lain harus dihormati: ketidakadilan harus dilawan.
- Jika ketidakadilan harus dilawan: struktur sosial, ekonomi, politik, dan teknologi harus diperiksa.
- Jika struktur harus diperiksa: kita harus belajar membaca tanda-tanda zaman.
- Jika kita membaca tanda-tanda zaman: kita membutuhkan discernment.
- Dan discernment harus menghasilkan: pilihan dan tindakan.
Maka keadilan bukan tambahan yang ditempelkan pada spiritualitas Ignasian.
Keadilan adalah salah satu konsekuensi dari perjumpaan dengan Allah yang mengutus manusia untuk melayani.
13. Rumusan sintesis
Seluruh hubungan tersebut dapat dirumuskan dalam satu kalimat:
- Latihan Rohani St. Ignatius mengajarkan bagaimana seorang murid Kristus melihat, merasakan, membedakan, memilih dan bertindak dalam kesetiaan kepada Allah; sedangkan Laudato Si’, Fratelli Tutti, Laudate Deum, dan Magnifica Humanitas menunjukkan medan konkret tempat discernment itu harus dilakukan pada zaman kita: relasi dengan ciptaan, persaudaraan manusia, krisis iklim, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Atau lebih singkat lagi:
- Ignatius memberi kita SPIRITUALITY OF DISCERNMENT;
- Ajaran Sosial Gereja memberi kita FIELD OF DISCERNMENT.
Dan keduanya bertemu dalam: CONTEMPLATION → DISCERNMENT → JUSTICE → ACTION → MAGIS
Inilah barangkali cara paling sederhana untuk memahami hubungan antara Latihan Rohani Santo Ignatius dan Ajaran Gereja mutakhir.
- Latihan Rohani mengajarkan cara melihat, Ajaran Sosial Gereja membantu kita melihat apa yang harus dilihat.
- Latihan Rohani mengajarkan cara membedakan, Ajaran Sosial Gereja menyediakan realitas konkret yang harus dibedakan.
- Latihan Rohani membawa kita kepada pilihan, Ajaran Sosial Gereja menunjukkan pilihan-pilihan moral dan sosial yang dihadapi manusia zaman ini.
Dan akhirnya, keduanya mengarahkan kita kepada tindakan.
Karena itu, seorang yang menjalani spiritualitas Ignasian pada zaman sekarang tidak cukup hanya bertanya: “Apa yang terjadi dalam diri saya ketika saya berdoa?”
Ia juga perlu bertanya:
- “Apa yang terjadi pada orang miskin?”
- “Apa yang terjadi pada bumi?”
- “Apa yang terjadi pada persaudaraan manusia?”
- “Apa yang terjadi pada generasi mendatang?”
- “Apa yang terjadi pada martabat manusia ketika kecerdasan buatan semakin kuat?”
Dan pertanyaan terakhirnya adalah pertanyaan Ignasian yang sangat sederhana sekaligus sangat menuntut:
- “Setelah melihat semua ini, Tuhan, apa yang Engkau kehendaki saya lakukan?”
Di situlah kontemplasi menjadi discernment, discernment menjadi keadilan, keadilan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi magis, usaha untuk memilih dan melakukan apa yang semakin membawa kemuliaan Allah dan pelayanan kepada manusia serta seluruh ciptaan.
(Jakarta, 03 September 2026, Sahabat Insan - Ignatius Ismartono, SJ)
[1]: https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/encyclicals/documents/20260515-magnifica-humanitas.html? "Encyclical Letter of His Holiness Leo XIV Magnifica Humanitas (15 May 2026)"
[2]: https://cis-esercizispirituali.net/wp-content/uploads/2024/06/The-Spiritual-Exercises-of-Saint-Ignatius-EN.pdf "The Text Of The Spiritual Exercises"
[3]: https://www.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si._20150524_enciclica-laudato-si.html "Laudato si' (24 May 2015)"
[4]: https://www.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papa-francesco_20201003_enciclica-fratelli-tutti.html "Fratelli tutti (3 October 2020)"
[5]: https://www.vatican.va/content/francesco/en/apost_exhortations/documents/20231004-laudate-deum.html "Laudate Deum": Apostolic Exhortation to all people of good will on the climate crisis (4 October 2023)"


