KEMULIAAN ALLAH DAN MANUSIA YANG SUNGGUH HIDUP
Kemuliaan Allah tampak dalam manusia yang sungguh hidup, yaitu manusia yang bermartabat, bertumbuh dalam kasih, keadilan, kebenaran, dan pengharapan serta
Membaca Bersama Santo Ireneus dan Santo Agustinus
Di tengah dunia yang masih diwarnai perang, perdagangan manusia, kemiskinan, dan berbagai bentuk ketidakadilan, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apa yang sesungguhnya memuliakan Allah? Apakah kemuliaan Allah terutama tampak dalam liturgi yang megah, doa yang khusyuk, atau gereja yang indah? Semua itu penting. Namun, dua Bapa Gereja yang hidup pada abad-abad awal Kekristenan mengajak kita melihat sesuatu yang lebih mendasar, yaitu manusia itu sendiri.
Santo Ireneus dari Lyon (±130–202 M) menulis sebuah kalimat yang kemudian menjadi salah satu ungkapan paling terkenal dalam tradisi Gereja:
Gloria enim Dei vivens homo; vita autem hominis visio Dei.
"Sebab kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; dan kehidupan manusia adalah memandang Allah." (Adversus Haereses, IV, 20, 7)
Ungkapan ini sering disingkat menjadi Gloria Dei vivens homo (Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup). Namun, jika hanya mengutip bagian pertama, kita mudah kehilangan maksud Ireneus yang sebenarnya. Bagian kedua sama pentingnya: "kehidupan manusia adalah memandang Allah."
Bagi Ireneus, "hidup" bukan sekadar bernapas atau bertahan hidup. Yang dimaksud adalah manusia yang berkembang sesuai dengan tujuan penciptaannya sebagai gambar dan rupa Allah. Manusia sungguh hidup apabila seluruh dirinya akal budi, hati, kehendak, dan relasinya bertumbuh menuju Allah. Sebaliknya, kehidupan yang terpisah dari Allah justru kehilangan arah dan kepenuhannya.
Hampir dua abad kemudian, Santo Agustinus (354–430 M) mengembangkan gagasan yang sejalan, meskipun dengan bahasa yang berbeda. Dalam pembukaan Confessiones, ia menulis:
Fecisti nos ad te, et inquietum est cor nostrum donec requiescat in te.
"Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau." (Confessiones, I, 1)
Bagi Agustinus, manusia tidak dapat menemukan kebahagiaan sejati hanya dengan mengejar harta, kekuasaan, atau kenikmatan. Hati manusia akan terus gelisah sampai ia kembali kepada Allah. Dengan demikian, kehidupan yang baik (bene vivere) bukan sekadar hidup nyaman, melainkan hidup yang diarahkan oleh kasih kepada Allah dan sesama.
Di sinilah kita melihat hubungan yang sangat indah antara Ireneus dan Agustinus.
Ireneus menegaskan bahwa kemuliaan Allah tampak dalam manusia yang sungguh hidup.
Agustinus menjelaskan bagaimana manusia menjadi sungguh hidup, yaitu ketika seluruh hidupnya berakar dalam Allah dan diwujudkan dalam kasih.
Keduanya tidak mengatakan hal yang sama dengan kata-kata yang sama. Namun, keduanya mengajarkan kebenaran yang saling melengkapi. Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap ungkapan yang kadang muncul dalam berbagai buku atau khotbah: Gloria Dei homo vivens bene.
Kalimat ini memang indah dan benar sebagai sebuah refleksi teologis, tetapi bukan kutipan asli dari Ireneus maupun Agustinus. Ireneus tidak pernah menambahkan kata bene, sedangkan Agustinus tidak pernah menulis kalimat itu dalam bentuk tersebut. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa pemikiran Agustinus membantu kita memahami lebih dalam apa yang dimaksud Ireneus dengan "manusia yang hidup."
Apa arti semua ini bagi kehidupan kita sekarang?
Sering kali kita mengukur keberhasilan hidup dari jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, menurut kedua Bapa Gereja ini, manusia belum tentu sungguh hidup hanya karena ia masih bernapas atau memiliki banyak hal. Manusia sungguh hidup apabila martabatnya dihormati, kebebasannya berkembang, kasihnya bertumbuh, dan hubungannya dengan Allah semakin mendalam.
Pemahaman ini mempunyai konsekuensi sosial yang sangat besar. Jika kemuliaan Allah tampak dalam manusia yang hidup, maka setiap tindakan yang merendahkan martabat manusia juga merusak kemuliaan Allah. Perdagangan manusia, penyiksaan, korupsi yang memiskinkan rakyat, eksploitasi pekerja, diskriminasi, kekerasan terhadap perempuan dan anak, bahkan penghancuran lingkungan hidup yang menghilangkan sumber kehidupan masyarakat, semuanya bukan hanya persoalan sosial. Semuanya juga merupakan persoalan teologis, karena melukai manusia yang diciptakan menurut citra Allah.
Sebaliknya, setiap usaha memulihkan martabat manusia ikut memuliakan Allah. Ketika seorang anak memperoleh pendidikan, ketika seorang korban perdagangan manusia berhasil membangun hidup baru, ketika orang miskin diperlakukan sebagai saudara, ketika seorang penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama, ketika seorang lanjut usia dihormati, ketika seorang pengungsi diterima sebagai sesama manusia, di sanalah kemuliaan Allah dinyatakan.
Karena itu, memuliakan Allah tidak berhenti pada doa dan ibadah, meskipun keduanya sangat penting. Kemuliaan Allah juga tampak ketika manusia semakin menjadi manusia sebagaimana dikehendaki Allah sejak awal penciptaan.
Mungkin inilah pesan yang paling relevan dari Ireneus dan Agustinus bagi dunia kita sekarang. Allah tidak membutuhkan kemuliaan dari manusia karena Allah sudah Mahamulia. Justru manusialah yang memperoleh kepenuhannya ketika hidup sesuai dengan kehendak Allah. Semakin manusia hidup dalam kebenaran, kasih, keadilan, dan pengharapan, semakin nyata pula kemuliaan Allah di dunia.
Maka, ungkapan Ireneus tetap menjadi panggilan bagi Gereja dan seluruh umat manusia: Gloria enim Dei vivens homo; vita autem hominis visio Dei. Kemuliaan Allah bukan pertama-tama tampak dalam bangunan yang megah atau upacara yang meriah, melainkan dalam manusia yang hidup secara utuh sebagai citra Allah. Dan manusia mencapai kepenuhan hidupnya ketika ia mengarahkan seluruh keberadaannya kepada Allah, sumber segala kehidupan. (Jakarta, Juli 2026 – Ignatius Ismartono, SJ)


